Menurut
salah satu sumber yang penulis kutip ada lima prinsip etika bisnis menurut
Keraf (1994:71-75) diantaranya adalah :
1.
Prinsip Otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk bertindak
berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertindak secara otonom mengandaikan adanya
kebebasan mengambil keputusan dan bertindak menurut keputusan itu. Otonomi juga
mengandaikan adanya tanggung jawab. Dalam dunia bisnis, tanggung jawab
seseorang meliputi tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, pemilik perusahaan,
konsumen, pemerintah, dan masyarakat.
2.
Prinsip Kejujuran. Prinsip kejujuran meliputi pemenuhan syarat-syarat
perjanjian atau kontrak, mutu barang atau jasa yang ditawarkan, dan hubungan
kerja dalam perusahaan. Prinsip ini paling problematik karena masih banyak
pelaku bisnis melakukan penipuan.
3.
Prinsip Tidak Berbuat Jahat dan Berbuat Baik. Prinsip ini mengarahkan agar kita
secara aktif dan maksimal berbuat baik atau menguntungkan orang lain, dan
apabila hal itu tidak bisa dilakukan, kita minimal tidak melakukan sesuatu yang
merugikan orang lain atau mitra bisnis.
4.
Prinsip Keadilan. Prinsip ini menuntut agar kita memberikan apa yang menjadi
hak seseorang di mana prestasi dibalas dengan kontra prestasi yang sama
nilainya.
5.
Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri. Prinsip ini mengarahkan agar kita
memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan dan tidak akan
memperlakukan orang lain sebagaimana kita tidak ingin diperlakukan.
Selain
itu juga ada beberapa nilai – nilai etika bisnis yang dinilai oleh Adiwarman
Karim, Presiden Direktur Karim Business Consulting, seharusnya jangan
dilanggar, yaitu :
·Kejujuran Banyak orang beranggapan bisnis
merupakan kegiatan tipu-menipu demi mendapat keuntungan. Ini jelas keliru.
Sesungguhnya kejujuran merupakan salah satu kunci keberhasilan berbisnis.
Bahkan, termasuk unsur penting untuk bertahan di tengah persaingan bisnis.
·Keadilan - Perlakukan setiap orang sesuai
haknya. Misalnya, berikan upah kepada karyawan sesuai standar serta jangan
pelit memberi bonus saat perusahaan mendapatkan keuntungan lebih. Terapkan juga
keadilan saat menentukan harga, misalnya dengan tidak mengambil untung yang
merugikan konsumen.
·Rendah Hati - Jangan lakukan bisnis
dengan kesombongan. Misalnya, dalam mempromosikan produk dengan cara
berlebihan, apalagi sampai menjatuhkan produk bersaing, entah melalui gambar
maupun tulisan. Pada akhirnya, konsumen memiliki kemampuan untuk melakukan
penilaian atas kredibilitas sebuah poduk/jasa. Apalagi, tidak sedikit
masyarakat yang percaya bahwa sesuatu yang terlihat atau terdengar terlalu
sempurna, pada kenyataannya justru sering kali terbukti buruk.
·Simpatik - Kelola emosi. Tampilkan wajah
ramah dan simpatik. Bukan hanya di depan klien atau konsumen anda, tetapi juga
di hadapan orang-orang yang mendukung bisnis anda, seperti karyawan, sekretaris
dan lain-lain.
·Kecerdasan - Diperlukan kecerdasan atau
kepandaian untuk menjalankan strategi bisnis sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang berlaku, sehingga menghasilkan keuntungan yang memadai. Dengan kecerdasan
pula seorang pebisnis mampu mewaspadai dan menghindari berbagai macam bentuk
kejahatan non-etis yang mungkin dilancarkan oleh lawan-lawan bisnisnya.
·Lakukan dengan cara yang baik, lebih baik atau
dipandang baik Sebagai pebisnis, anda jangan mematok diri pada aturan-aturan
yang berlaku. Perhatikan juga norma, budaya atau agama di tempat anda membuka
bisnis. Suatu cara yang dianggap baik di suatu Negara atau daerah, belum tentu
cocok dan sesuai untuk di terapkan di Negara atau daerah lain. Hal ini penting
kalau ingin usaha berjalan tanpa ada gangguan.
Bisnis adalahBisnis merupakan
sekumpulan aktiftas yg dilakukan untuk menciptakan dengan cara mengembangkan
dan mentransformasi berbagai sunber daya menjadi barang/jasa yg diinginkan
konsumen atau suatu lembaga yg menghasilkan barang dan jasa yg dibutuhkan
masyarakat.apabila kebutuhan masyarakat meningkat, maka lembaga bisnispun akan
meningkat pula perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sambil
memperoleh laba.
Maksudnya
adalah memberikan pelayanan yang dapat memenuhi dan memuaskan pelanggan atau
masyarakat serta memberikan fokus pelayanan kepada pelanggan. Pelayanan prima
pada sektor publik didasarkan pada aksioma bahwa "pelayanan adalah
pemberdayaan". Kalau pada sektor bisnis atau swasta tentunya pelayanan
selalu bertujuan atau berorientasi profite atau keuntungan perusahaan.
Pelayanan prima sektor publik tidaklah mencari untung, tetapi memberikan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara sangat baik atau terbaik.
b.Semangat
fairness
Semangat
Fairness merupakan hal yang sangat mudah dipahami, kerena kejujuran, keadilan,
kejujuran sangatlah penting, kejujuran adalah modal penting untuk menuju
sukses, mengutamakan kejujuran yang paling diutamakan serta keadilan. tetapi
sangat peka dan begitu penting yang perlu dimiliki setiap orang yang bekerja
dalam suatu perusahaan
c.Semangat
Harmonis dan Kerjasama
Semangat
Harmonis dan Kerjasama akan tercipta bila mulai dari individu sudah tertanam
jiwa menghargai dan kerjasama yang tinggi terhadap individu lain sehingga akan
tercipta keleompok – kempok bagian di perusahaan yang harmonis dan memiliki
kerjasama yang kuat. Dan pada akhirnya akan tercipta individu – individu yang
kompeten dalam bidangnya masing –masing
d.Semangat
Kerja Keras untuk Maju
seseorang
perlu ditanamkan rasa Semangat Kerja Keras untuk Maju sebagai bentuk kompetensi
yang dapat diberikan seseorang terhadap tempat/perusahaan dimana seseorang
tersebut bekerja. Semangat Kerja Keras untuk Maju menentukan keberhasilan
seseorang dalam setiap karirnya, dengan begitu ada keinginan dalam dirinya
untuk menyelesaikan setiap tugas – tugasnya dengan baik. Jika seseorang
tersebut sudah melakukan kerja keras yang tentunya dengan kompetensi –
kompetensi yang seseorang miliki maka kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan akan tercapai.
e.Semangat
hormat dan rendah hati
Semangat
Hormat dan Rendah harus dilakukan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, waktu
dan tempat kapanpun dimanapun, atasan dan bawahan, tua dan muda di suatu
perusahaan. karena bila pelayannya ramah konsumen akan senang dan nyaman
ditempat tersebut.
f.Semangat
mengikuti hukum alam
sebagai
makhluk hidup tentu harus mangikuti hukum alam kitapun harus bias merawat
kekayaan alam.
g.Kejujuran
adalah pangkal sukses
Kejujuran
adalah pangkal sukses dari sebuah kegiatan bisnis. Setiap elemen harus memiliki
rasa kejujuran untuk mebuat keadaan semakin solid
h.Semangat
bersyukur
baik
ataupun buruk dalam setiap kegiatan bisnis patut disyukuri. Hasil yang
diperoleh adalah hasil kerja keras dari setiap elemen bisnis. Bersyukur juga
dapat meningkatkan keinginan untuk maju dan sukses.
4 Oktober 2011
TUGAS ETIKA BISNIS
Nama
: Indra harisman
Kelas
: 4EA12
Npm
: 10208642
Dosen
: Bapak Supriyo Hartadi.W
Tugas
ke : I
Judul
: Teori Etika Bisnis PENGERTIAN ETIKA BERDASARKAN BAHASA
Menurut bahasa Yunani Kuno,
etika berasal dari kata ethikosyang
berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika adalah cabang utama
filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi
mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan
penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga
bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai
etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai
etika) (id.wikipedia.org).
Etika bisnis memiliki padanan kata yang bervariasi, yaitu (Bertens, 2000):
1. Bahasa Belanda àbedrijfsethiek
(etika perusahaan).
2. Bahasa Jerman àUnternehmensethik
(etika usaha).
3. Bahasa Inggris àcorporate
ethics (etika korporasi). ANALISIS ARTI ETIKA
Untuk menganalisis arti-arti etika, dibedakan menjadi dua jenis etika
(Bertens, 2000):
1. Etika sebagai Praktis
a. Nilai-nilai dan
norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan walaupun
seharusnya dipraktekkan.
b. Apa yang dilakukan sejauh
sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral.
2. Etika sebagai Refleksi
a. Pemikiran moral à berpikir tentang apa yang dilakukan dan
khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
b. Berbicara tentang etika
sebagai praksis atau mengambil praksis etis sebagai objeknya.
c. Menyoroti dan menilai baik
buruknya perilaku orang.
d. Dapat dijalankan pada
taraf populer maupun ilmiah.
PERKEMBANGAN ETIKA BISNIS
Berikut perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000):
1.Situasi Dahulu
Pada awal sejarah filsafat,
Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya
mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana
kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.
2.Masa Peralihan: tahun 1960-an
ditandai pemberontakan
terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di
ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal
ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan
menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and
Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social
responsibility.
3.Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an
sejumlah filsuf mulai terlibat
dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis
dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi
dunia bisnis di AS.
4.Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an
di Eropa Barat, etika bisnis
sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum
pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European
Business Ethics Network (EBEN).
5.Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an
tidak terbatas lagi pada dunia
Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International
Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996
di Tokyo.
PENGERTIAN ETIKA BISNIS
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan
mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar
moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis
(Velasquez, 2005).
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
antara lain adalah:
1.Pengendalian diri
2.Pengembangan tanggung jawab social (social
responsibility)
3.Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk
terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4.Menciptakan persaingan yang sehat
5.Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6.Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong,
Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7.Mampu menyatakan yang benar itu benar
8.Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan
pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9.Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah
disepakati bersama
10.Menumbuhkembangkan
kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11.Perlu
adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang
berupa peraturan perundang-undangan
CIRI
BISNIS YANG BERETIKA
Ciri Bisnis yang Beretika
Berdasarkan hasil diskusi kelompok
dalam mata kuliah etika bisnis dapat disimpulkan mengenai Ciri-Ciri Bisnis yang
beretika yaitu:
1.Tidak merugikan siapapun
2.Tidak menyalahi aturan-aturan dan
norma yang ada
3.Tidak melanggar hokum
4.Tidak menjelek-jelekan saingan
bisnis
5.Mempunyai surat izin usaha
Semoga tulisan ini dapat menambah
pengetahuan kita untuk menjadi pebisnis yang beretika.
Pengertian
etika berbeda dengan etiket. Etiket berasal dari bahasa Prancis etiquette
yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia. Sementara itu
etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan merupakan cara
hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama.
Etika
merupakan filsafat / pemikiran kritis dan rasional mengenal nilai dan norma
moral yg menentukan dan terwujud dalam sikap dan pada perilaku hidup manusia,
baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.(sebuah ilmu : pengejawantahan
secara kritis ajaran moral yang dipakai).
KEGIATAN BISNIS DI
KELOMPOKAN DALAM 3 BIDANG :
1.Kegiatan Perdagangan :
jual-beli
2.Bisnis dalam arti kegiatan
industri
3.Bisnis dalam arti kegiatan
jasa-jasa.
Mempraktikkan
bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan
santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Etiket
berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi
rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu
berupa senyum — sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalah
gunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran,
dan tidak memotong pembicaraan orang lain.
Dengan
kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan
rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra
pribadi dan perusahaan. Berbisnis dengan etika bisnis adalah menerapkan
aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis menyangkut
moral, kontak sosial, hak-hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturan-aturan.
Jika
aturan secara umum mengenai etika mengatakan bahwa berlaku tidak jujur adalah
tidak bermoral dan beretika, maka setiap insan bisnis yang tidak berlaku jujur
dengan pegawainya, pelanggan, kreditur, pemegang usaha maupun pesaing dan
masyarakat, maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral. Intinya adalah
bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan
baik dengan cara peka dan toleransi. Dengan kata lain, etika bisnis untuk
mengontrol bisnis agar tidak tamak. Bahwa itu bukan bagianku. Perlakukan orang
lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Ketika
ekonomi Indonesia tumbuh pesat dalam sepuluh tahun terakhir, banyak pendatang
baru di bisnis. Ada pedagang yang menjadi bankir. Banyak juga pengusaha yang
sangat ekspansif di luar kemampuan. Mereka berlomba membangun usaha
konglomerasi yang keluar dari bisnis intinya tanpa disertai manajemen
organisasi yang baik. Akibatnya, pada saat ekonomi sulit banyak perusahaan yang
bangkrut.
Pelanggaran
etik bisnis di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk menegakan etik
perlu digalakkan. Misalkan, perusahaan tidak perlu berbuat curang untuk meraih
kemenangan. Hubungan yang tidak transparan dapat menimbulkan hubungan istimewa
atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi. Banyak perusahaan-perusahaan
yang melakukan pelanggaran, terutama dalam kinerja keuangan perusahaan karena
tidak lagi membudayakan etika bisnis agar orientasi strategik yang dipilih
semakin baik. Sementara itu hampir 61.9% dari 21 perusahaan makanan dan minuman
yang terdaftar di BEJ tidak lengkap menyampaikan laporan keuangannya (not
avaliable).
”Pelanggaran
etika perusahaan terhadap pelanggannya di Indonesia merupakan fenomena yang
sudah sering terjadi. Contoh terakhir adalah pada kasus Ajinomoto. Kehalalan
Ajinomoto dipersoalkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada akhir Desember 2000
setelah ditemukan bahwa pengembangan bakteri untuk proses fermentasi tetes tebu
(molase), mengandung bactosoytone (nutrisi untuk pertumbuhan
bakteri), yang merupakan hasil hidrolisa enzim kedelai terhadap biokatalisator porcine
yang berasal dari pankreas babi,”.
Kasus
lainnya, terjadi pada produk minuman berenergi Kratingdeng yang sebagian
produknya diduga mengandung nikotin lebih dari batas yang diizinkan oleh Badan
Pengawas Obat dan Minuman. ”Oleh karena itu perilaku etis perlu dibudayakan
melalui proses internalisasi budaya secara top down agar perusahaan
tetap survive dan dapat meningkatkan kinerja keuangannya,”.
Pengaruh
budaya organisasi dan orientasi etika terhadap orientasi strategik secara
simultan sebesar 65%. Secara parsial pengaruh budaya organisasi dan orientasi
etika terhadap orientasi strategik masing-masing sebesar 26,01% dan 32,49%. Hal
ini mengindikasikan bahwa komninasi penerapan etika dan budaya dapat
meningkatkan pengaruh terhadap orientasi strategik. ”Hendaknya perusahaan
membudayakan etika bisnis agar orientasi strategik yang dipilih semakin baik.
Salah satu persyaratan bagi penerapan orientasi strategik yang inovatif,
proaktif, dan berani dalam mengambil risiko adalah budaya perusahaan yang
mendukung,”.
Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan
sangsi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi
kebiasaan. Repotnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu
bila ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada
yang bersangkutan. Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menegakkan
budaya transparansi antara lain:
1.Penegakkan budaya berani
bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya. Individu yang mempunyai
kesalahan jangan bersembunyi di balik institusi. Untuk menyatakan kebenaran
kadang dianggap melawan arus, tetapi sekarang harus ada keberanian baru untuk
menyatakan pendapat.
2.Ukuran-ukuran yang
dipakai untuk mengukur kinerja jelas. Bukan berdasarkan kedekatan dengan
atasan, melainkan kinerja.
3.Pengelolaan sumber daya
manusia harus baik.
4.Visi dan misi perusahaan
jelas yang mencerminkan tingkah laku organisasi.
SASARAN DAN RUANG LINGKUP ETIKA BISNIS
Setelah
melihat penting dan relevansi etika bisnis ada baiknya jika kita tinjau lebih
lanjut apa saja sasaran dan lingkup etika bisnis itu. Ada tiga sasaran dan
ruang lingkup pokok etika bisnis di sini, yaitu:
1.Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai
prinsip, kondisi, dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan
etis. Dengan kata lain, etika bisnis pertama-tama bertujuan untuk menghimbau
para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis secara baik dan etis.
2.Menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh, atau
karyawan dan masyarakatluas pemilik aset umum semacam lingkungan hidup, akan
hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis siapa
pun juga. Pada tingkat ini, etika bisnis berfungsi untuk menggugah masyarakat
untuk bertindak menuntut para pelaku bisnis untuk berbisnis secara baik demi
terjaminnya hak dan kepentingan masyarakat tersebut. Etik bisnis mengajak
masyarakat luas, entah sebagai kartawan, konsumen, atau pemakai aset umum
lainnya yan gberkaitan dengan kegiatan bisnis, untuk sadar dan berjuang
menuntut haknya atau paling kurang agar hak dan kepentingannya tidak dirugikan
oleh kegiatan bisnis pihak mana pun.
3.Etika bisnis juga berbicara mengenai sistem ekonomi
yang sangat menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini, etika
bisnis lebih bersifat makro, yang karena itu barang kali lebih tepat disebut
etika ekonomi. Dalam lingkup makro semacam ini, etika bisnis berbicara mengenai
monopoli, oligopoli, kolusi, dan praktek-praktek semacamnya yang akan
sangatmempengaruhi tidak saja sehat tidaknya suatu ekonomi melainkan juga baik
tidaknya praktek bisnis dalam sebuah negara.
PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS
Keraf
(1994:71-75) menyebutkan terdapat lima prinsip etika bisnis yaitu:
1.Prinsip Otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemampuan
manusia untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertindak secara
otonom mengandaikan adanya kebebasan mengambil keputusan dan bertindak menurut
keputusan itu. Otonomi juga mengandaikan adanya tanggung jawab. Dalam dunia
bisnis, tanggung jawab seseorang meliputi tanggung jawab terhadap dirinya
sendiri, pemilik perusahaan, konsumen, pemerintah, dan masyarakat.
2.Prinsip Kejujuran. Prinsip kejujuran meliputi pemenuhan
syarat-syarat perjanjian atau kontrak, mutu barang atau jasa yang ditawarkan,
dan hubungan kerja dalam perusahaan. Prinsip ini paling problematik karena
masih banyak pelaku bisnis melakukan penipuan.
3.Prinsip Tidak Berbuat Jahat dan Berbuat Baik. Prinsip
ini mengarahkan agar kita secara aktif dan maksimal berbuat baik atau
menguntungkan orang lain, dan apabila hal itu tidak bisa dilakukan, kita
minimal tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau mitra bisnis.
4.Prinsip Keadilan. Prinsip ini menuntut agar kita
memberikan apa yang menjadi hak seseorang di mana prestasi dibalas dengan
kontra prestasi yang sama nilainya.
5.Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri. Prinsip ini
mengarahkan agar kita memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin
diperlakukan dan tidak akan memperlakukan orang lain sebagaimana kita tidak
ingin diperlakukan.
KENDALA-KENDALA PELAKSANAAN ETIKA BISNIS
Pelaksanaan
prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan beberapa
masalah dan kendala. Keraf(1993:81-83) menyebut beberapa kendala tersebut
yaitu:
1.Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih
lemah. Banyak di antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas,
bahkan menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan
etika bisnis, seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang
yang kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan keuangan.
2.Banyak perusahaan yang mengalami konflik kepentingan.
Konflik kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai
pribadi yang dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang
hendak dicapainya, atau konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan
praktik bisnis yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau
antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang
kurang teguh standar moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar
tujuan dengan mengabaikan peraturan.
3.Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil. Hal ini
diperkeruh oleh banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit
politik, yang di satu sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya
memberi kesempatan bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna
keberhasilan usaha bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang
menimbulkan spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan
tanpa menghiraukan akibatnya.